Tiga WASIAT
Rasulullah صلى الله عليه وسلم
Prof. Dr. Syaikh
Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin
Al-Abbad Al-Badr حفظهما الله
Al-Abbad Al-Badr حفظهما الله
Sungguh
beruntung orang yang menghiasi hidupnya dengan Sunnah-Sunnah
yang
dicontohkan
oleh
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم. Sungguh
bahagia orang yang menjadikan petuah dan wasiat Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebagai panduan hidupnya. Berikut ini adalah sebagian dari
wasiat yang pernah disampaikan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada para Sahabatnya صلى الله عليه وسلم. Sebuah wasiat yang singkat namun sarat makna serta menyentuh
hati. Wasiat yang menghimpun kebaikan dunia dan akhirat dengan sempurna.-Red.
Dalam
Musnad Imam Ahmad dan Sunan Ibnu Majah juga para Imam lainnya
terdapat hadits dari Abu Ayyub al-Anshari رضي الله عنه. Dalam hadits itu diberitakan bahwa ada seorang laki-laki
mendatangi Rasulullah صلى الله عليه وسلم lalu
mengatakan:
عِظْنِى وَأَوْجِزْ
وفي روايه عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ قَالَ: إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ
مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ
مِـمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ
"Berilah
aku nasehat dengan ringkas! (dalam riwayat lain) Ajarilah aku dengan ringkas! Lalu
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, 'Jika kamu berdiri hendak melaksanakan
shalat, maka shalatlah sebagaimana shalat orang yang pergi selamanya; Janganlah
kamu mengucapkan satu perkataan yang kamu akan meminta maaf karenanya pada esok
harinya; bertekadlah untuk tidak mengharapkan apa yang dimiliki orang lain." (HR. Imam
Ahmad, no. 23498 dan Ibnu Majah, no. 4171. Lihat as-Shahihah, no. 401)
Hadits
ini adalah hadits hasan dengan banyaknya syawahid (pendukung). Hadits
agung yang singkat ini berisi tiga wasiat yang menghimpun semua kebaikan, dunia
dan akhirat. Barangsiapa memahaminya lalu mengamalkannya, maka dia akan meraih
semua kebaikan, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat.
Wasiat Pertama,
Wasiat tentang shalat agar kaum Muslimin memberikan perhatian ekstra dan
menunaikannya dengan benar.
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم dalam hadits
di atas mengajak setiap orang yang hendak melaksanakan shalat agar dia
mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh sebagaimana orang yang mengerjakan
shalatnya yang terakhir, dia tahu dirinya tidak bisa lagi mengerjakan shalat
setelah itu. Jika seseorang yang mengerjakan shalat merasa bahwa itu adalah
shalat terakhir yang bisa dilakukan, dia tidak bisa mengerjakan shalat setelah
itu, maka pasti dia akan bersungguh-sungguh. Dia pasti akan mengerjakannya
dengan baik dan benar, dia pasti akan berusaha menyempurnakan semua
rukun-rukunnya, seperti ruku' dan sujudnya juga hal yang diwajibkan atau bahkan
hal-hal yang disunnahkan
tidak akan ditinggalkan sedikit pun.
Oleh
karena itu, semestinya setiap orang yang hendak melaksanakan shalat mengingat
wasiat Rasulullah صلى الله عليه وسلم ini dalam
setiap shalat yang sedang dia lakukan. Barangsiapa melaksanakan shalat dengan
baik dan benar, maka shalat tersebut akan memandu dan membimbingnya kepada
semua kebaikan dan keutamaan. Dan shalat seperti itu akan menjadi penyejuk mata
(penenang baginya) dan mendatangkan kebahagiaan.
Wasiat kedua,
Wasiat agar menjaga lisan.
Lisan
manusia termasuk anggota badan yang paling berbahaya. Jika sebuah kalimat atau
ucapan belum keluar dari mulut seseorang, maka itu
artinya si pemilik lisan
masih bisa mengendalikan kalimat yang belum terucap tersebut dan ia menjadi
penguasa baginya. Namun jika suatu kalimat atau perkataan sudah terlontarkan
dari lisan, maka kalimat yang terucap itu
akan menjadi penguasa atas si penguacap dan dia akan memaksanya untuk
menanggung resiko ucapannya tersebut.
Sabda
Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
لَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ
تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا
Janganlah
kamu mengucapkan suatu kalimat yang kamu akan meminta maaf karenanya pada esok
harinya.
Artinya,
bersungguh-sungguhlah dalam menahan lisanmu agar tidak
mengucapkan perkataan yang kamu khawatir harus meminta maaf karenanya di kemudian
hari. Selama Anda belum mengucapkan kalimat atau perkataan itu, berarti anda
masih memegang kendali, tapi jika sudah diucapkan oleh lisan, berarti ucapan itulah yang
memegang kendali atas diri anda.
Dalam
wasiat Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang lain
kepada Mu'adz bin Jabal رضي الله عنه:
أَلَا أُخْبِرُكَ بِـمَلَاكِ
ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قَالَ: بَلَى يَا نَبِيَّ اللَّهِ فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ: كُفَّ
عَلَيْكَ هَذَا، قَالَ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ
بِه؟ِ فَقَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ
عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ قَال: عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ
Maukah
engkau aku beritahu kunci dari semua itu? (Mu'adz mengatakan-red) aku mengatakan,
"Tentu wahai Rasulullah." Rasulullah صلى الله عليه وسلم memegang lidahnya secara bersabda, "Tahanlah ini!"
(Mu'adz mengatakan-red) aku mengatakan, "Wahai Nabi Allah! Apakah kita
akan disiksa dengan sebab ucapan
yang
kita
ucapkan?"
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم menjawab,
"Wahai Mua'dz, kasihan sekali kamu! Adakah sesuatu yang menyebabkan
seseorang tersungkur wajahnya di neraka selain dari ucapan-ucapan lisan mereka (HR. Ahmad, no. 22016;
at-Tirmidzi, no. 2616 dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam
kitab Shahihul Jami', no. 5136).
Jadi
lisan itu sangat berbahaya. Dalam
sebuah hadits dari Shahabat Tsabit, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda;
إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ
آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ
فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ
اعْوَجَجْنَا
"Jika
Bani Adam memasuki waktu pagi, maka
seluruh anggota badan manusia tunduk kepada Lisan lalu mereka mengatakan,
'Bertakwalah kalian dalam urusan kami, karena kami selalu bersama kamu. Jika anda lurus, maka kami juga lurus dan jika anda bengkok,
maka kami juga bengkok. (HR. Ahmad, no. 11908
dan at-Tirmidzi, no. 2407 dari hadits Sa'id al-Khudri. Hadits ini dinilai hasan
oleh Syaikh al-Albani)
Sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
لَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ
تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا
Janganlah
kamu mengucapkan suatu kalimat yang kamu akan meminta maaf karenanya pada esok
harinya.
Dalam
potongan kalimat ini, terdapat seruan, ajakan dan himbauan untuk selalu
introspeksi diri dalam masalah ucapan-ucapan yang terlontar dari Lisan, hendaklah kita merenung sebelum
berucap, jika kita memandang ucapan itu mendatangkan kebaikan, maka ucapkanlah!
Namun jika ucapan yang akan kita katakan itu buruk, maka hendaklah dia menahan
diri. Jika tidak tahu, apakah ucapan itu baik atau buruk? Maka sebaiknya
menahan diri dan tidak mengucapkannya sampai kita benar-benar mengerti tentang
ucapan yang akan kita ucapkan tersebut. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia
mengucapkan perkataan yang baik atau diam (HR. Al-Bukhari, no. 6018 dan Muslim,
no. 47 dari hadits Abu Hurairah رضي الله عنه )
Namun
banyak orang yang membiarkan atau membebani dirinya dengan banyak bicara dan
tidak mau ambil pusing dengan pembicaraannya, akhirnya dia harus menanggung
resiko buruk dari ucapannya di dunia dan akhirat. Sebagai seorang yang berakal sehat
mestinya seseorang harus menimbang-nimbang ucapan yang akan dilontarkan dan
memelihara lisannya dari ucapan-ucapan yang tidak bermanfaat atau tidak layak
sehingga perlu meminta maaf di waktu yang akan datang.
Sabda
Rasulullah صلى الله عليه وسلم :
لَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ
تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا
Janganlah
kamu mengucapkan suatu kalimat yang kamu akan meminta maaf karenanya pada esok harinya
Kata
"besok" dalam hadits di atas bisa jadi maksudnya Hari Kiamat, yaitu
disaat kita harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan anggota badan kita di
hadapan Allah عزّوجلّ, atau bisa
jadi maksudnya adalah besok hari yakni di dunia saat banyak orang yang menuntut
konsekuensi dari ucapan kita.
Wasiat Ketiga,
wasiat agar qana'ah, menggantungkan hati hanya kepada Allah عزّوجلّ semata dan sama sekali tidak mengharapkan apa yang dimiliki orang lain.
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda:
وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ
مِـمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ
Bertekadlah
untuk tidak mengharapkan apa yang dimiliki orang lain.
Maksudnya
fokuskan hatimu! Bertekadlah untuk tidak mengharapkan apa-apa yang dimiliki
orang lain. Janganlah Anda mengharapkan apapun dari mereka! Hendaklah Anda
berharap hanya kepada Allah عزّوجلّ semata!
Sebagaimana lisan kita yang hanya meminta dan memohon kepada Allah عزّوجلّ semata, maka begitu juga
bahasa tubuh kita yang lain, hendaknya hanya meminta dan memohon serta berharap
kepada Allah semata. Kita memutus semua
harapan dan ketergantungan hati kita dari semua orang lalu kita arahkan
ketergantungan hati kita hanya kepada Allah
عزّوجلّ. Dan shalat
yang dilakukan oleh seseorang merupakan sarana terbesar dalam merealisasikan
semua yang menjadi keinginan.
Orang
yang tidak menaruh harapan kepada semua yang dimiliki orang lain, maka dia akan
hidup mulia dan berwibawa, sebaliknya orang yang selalu mengharapkan apa yang
dimiliki orang lain, maka hidupnya akan terhina.
Orang yang hatinya senantiasa bergantung
kepada Allah عزّوجلّ dalam segala keadaan, dia tidak berharap
kecuali kepada Allah, tidak meminta kecuali kepada Allah juga tidak bertawakkal
kecuali kepada-Nya, maka pasti Allah عزّوجلّ akan memenuhi
kebutuhannya di dunia dan di akhirat. Allah
عزّوجلّ berfirman:
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ
عَبْدَهُ
Bukankah
Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. (QS. Az-Zumar/39:36)
Juga berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ
عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ
لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Dan
barangslapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya.
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS.
Ath-Thalaq/65:3)
Inilah
tiga wasiat singkat Rasulullah صلى الله عليه وسلم namun sarat dengan makna. Semoga Allah عزّوجلّ memberikan hidayah
taufiq-Nya kepada kita semua agar bisa melakukan dan melaksanakan wasiat
Rasulullah صلى الله عليه وسلم ini.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar